Poetry Of Architecture
Etika profesi mulai muncul ketika manusia mulai merefleksikan bagaimana hidup bersama dengan cara terbaik. Dari pertemuan ini saya baru mendapatkan sebuah kejelasan, bahwa memang etika itu tidak berbadan hukum, ( kecuali etika profesi pegawai negeri sipil ). Etika adalah sebuah aturan yang tidak mengikat dan bersumber pada nilai-nilai kebenaran dan hati nurani manusia. Setiap profesi pasti mempunyai etika atau kode etik, dan kesemuanya itu tidak berbadan hukum.
Pendapat lain mengatakan bahwa etika adalah kode etik dasar untuk menghakimi dan membela diri. Disebutkan standar beretika adalah; menghindari hukuman, mendapatkan simpati, menyenangkan orang di sekeliling, berorintasi pada hukum dan ketertiban, kontak sosial, dan prinsip-prinsip etika universal. Kalau kita sudah menjalankan keenam point di atas, maka sudah tentu kita disebut sebagai orang yang beretika.
Satu hal yang baru saya sadari, bahwa profesi yang paling seksi dalam sudut pandang ilmiah adalah Arsitek. Ya.. saya pun turut mengamininya. Bagaimana tidak, Arsitek adalah seorang desainer profesional, dalam mendesain ia berorientasi pada dua hal, yaitu kepuasan klien dan upaya memperbaiki lingkungan. Yang keduanya merupakan
Arsitek adalah sebuah profesi yang bebas, ia sudah bisa dipandang sebagai seorang arsitek, meski hanya seorang diri. karena hal itulah maka nama baik akan menjadi tanggung jawab diri sendiri. Sebuah kepercayaan menjadi hal penting disini, untuk mempertahankannya diperlukan adanya etika profesi yang ditunjang dengan karya-karya yang berkualitas, dan kredibilitas profesi.
Kita tau bahwa satu garis yang digambar oleh seorang arsitek akan memberikan dampak yang besar bagi lingkungannya. Sehingga sangat wajar bila ada sebuah semboyan yang mengatakan bahw, “ ketika bangunan itu berdiri di suatu lokasi, maka bangunan itu telah menjadi milik publik. Karenanya seorang Arsitek harus mempunyai pertimbangan yang kuat terhadap desain yang dibuatnya setelah ia melakukan analisis secara mendalam.
Yang terakhir, dosen tamu memaparkan mengenai sebuah judul yang serentak membuat saya juga membenarkan kalimat tersebut. Sebuah Sub bab dari Etika profesi Arsitek, yaitu mengenai “Poetry of Architecture” dalam sub bab ini saya menemukan sebuah kalimat yang juga memberikan judul tentang pemikiran saya terhadap Arsitektur selama ini. “ Arsitektur adalah puisi yang beku”.
Arsitektur adalah bagian dari seni. Ketika seni sastra ditransfer ke dalam Arsitektur melalui metafora dan analogi, maka hasil dari penggabungan antara seni (sastra, musik, tari,dll ) dan Arsitektur (sebagai seni bangunan) adalah “puisi yang beku” yaitu bangunan itu sendiri.
Itu pendapat saya mengenai Arsitektur. Ketika kita belajar perkembangan Arsitektur, saya mendapat kesimpulan bahwa kini Arsitektur sudah mulai kehilangan maknanya. Peradaban tempo dulu menggunakan Arsitektur sebagai pemujaan kepada dewa-dewanya. Mereka menggambarkan Arsitektur dengan sangat detail dan penuh makna pada setiap detailnya. (Yunani, Mesir, dll ), ada juga yang mengunakan Arsitektur sebagai media untuk menyatakan cinta pada orang yang disayanginya ( Taj Mahal, India) dan itu dibuat dengan penuh makna di setiap detailnya.
Kita lihat sekarang, Arsitektur hanya dipandang sebaga sebuah bangunan yang apabila bangunan itu mempunyai struktur yang hebat, atau tanggap terhadap lingkungan, maka akan terkenallah bangunan tersebut. Bagaimana dengan makna di dalamnya?? Benarkah Arsitektur mulai kehilangan maknanya??…
Memang banyak hal yang mempengaruhi disini, salah satunya adalah tingkat perekonomian. Ketika manusia mempunyai perekonomian yang cukup ( tidak lebih ) maka ia cenderung akan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan primernya. Karena itulah, maka Arsitektur hanya dipandang sebagai pemenuh kebutuhan saja, yaitu tempat tinggal. Yang menjadi pertanyaan saya, seberapa penting kah Nilai seni pada Arsitektur pada masa sekarang? Sejauh mana masyarakat memandang Arsitektur sebagai sebuah seni yang kaya akan makna didalamnya? Dan.. apakah seorang Arsitek yang mendesain bangunannya penuh makna akan diterima oleh masyarakat luas?
Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Juni 2009 (1)
- Mei 2009 (1)
- April 2009 (3)
- Februari 2009 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS